Beranda >> Artikel >> Ritualistik Ibadah Haji & Umroh
Beranda >> Artikel >> Ritualistik Ibadah Haji & Umroh
Senin, 03 Juli 2026 14.00 WIB
Almira News – Penulis : Faiz Hibatullah
Urutan Pelaksanaan Ibadah Haji perlu dipahami sejak awal agar calon jamaah tidak hanya mengikuti rombongan, tetapi benar-benar mengerti makna dan tata cara setiap amalan. Haji adalah ibadah besar yang memiliki waktu, tempat, dan rangkaian khusus. Jika urutannya dipelajari dengan baik, jamaah akan lebih siap menjalankan manasik secara tertib dan khusyuk.
Dalam tuntunan Islam, pelaksanaan haji merujuk pada praktik Rasulullah SAW. Beliau bersabda:
لِتَأْخُذُوا مَنَاسِكَكُمْ
Artinya: “Hendaklah kalian mengambil tata cara manasik kalian dariku.” (HR. Muslim)
Hadits shahih ini menjadi dasar penting bahwa tata cara haji sesuai sunnah harus dipelajari dengan ilmu. Karena itu, artikel ini membahas rangkaian ibadah haji sesuai sunnah dari awal sampai akhir secara ringkas dan mudah dipahami calon jamaah.
Baca Juga Artikel Ini: Keutamaan Ibadah Haji: Memperkuat Spiritual dan Mengabdi kepada Allah
Urutan Pelaksanaan Ibadah Haji pertama adalah ihram dari miqat. Ihram berarti niat masuk ke dalam ibadah haji dengan ketentuan tertentu. Sebelum ihram, jamaah dianjurkan membersihkan diri, memakai pakaian ihram, lalu berniat sesuai jenis haji yang dikerjakan, seperti tamattu, ifrad, atau qiran.
Setelah berniat, jamaah mulai menjaga larangan ihram. Di antaranya tidak memakai wewangian, tidak memotong rambut atau kuku, tidak berburu, dan menjaga ucapan serta perilaku. Pada tahap ini, jamaah mulai memperbanyak talbiyah sebagai bentuk memenuhi panggilan Allah.
Pada tanggal 8 Dzulhijjah atau hari Tarwiyah, jamaah bergerak menuju Mina. Di sana jamaah menginap dan memperbanyak ibadah. Tahap ini menjadi awal rangkaian puncak haji.
Bagi jamaah Indonesia, teknis keberangkatan menuju Mina biasanya mengikuti arahan petugas dan pembimbing. Karena itu, penting bagi jamaah untuk disiplin mengikuti jadwal rombongan agar ibadah tetap tertib.
Wukuf di Arafah adalah inti haji. Rasulullah SAW bersabda:
الْحَجُّ عَرَفَةُ
Artinya: “Haji itu adalah Arafah.” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, An-Nasa’i, dan Ibnu Majah; dinilai shahih oleh sejumlah ulama)
Wukuf dilakukan pada 9 Dzulhijjah. Pada waktu ini, jamaah memperbanyak doa, dzikir, istighfar, dan munajat kepada Allah. Arafah menjadi momen yang sangat penting karena jamaah berkumpul dalam keadaan merendahkan diri di hadapan Allah.
Jika seseorang tidak mendapatkan wukuf pada waktunya, hajinya tidak sah. Karena itu, wukuf menjadi rukun yang wajib dijaga.
Setelah matahari terbenam pada 9 Dzulhijjah, jamaah bergerak dari Arafah menuju Muzdalifah. Di tempat ini jamaah bermalam atau berada pada sebagian malam sesuai ketentuan manasik. Jamaah juga biasanya mengambil kerikil untuk melontar jumrah di Mina.
Mabit di Muzdalifah mengajarkan kesederhanaan dan kepasrahan. Jamaah beristirahat di tempat terbuka, memperbanyak dzikir, dan bersiap memasuki rangkaian berikutnya.
Pada 10 Dzulhijjah, jamaah menuju Mina untuk melontar jumrah Aqabah. Setelah itu, jamaah melakukan tahallul awal dengan mencukur atau memendekkan rambut. Tahallul menjadi tanda bahwa sebagian larangan ihram sudah selesai.
Pada hari yang sama, jamaah juga melaksanakan penyembelihan hadyu bagi yang berhaji tamattu atau qiran. Teknis penyembelihan biasanya sudah diatur melalui sistem resmi, sehingga jamaah cukup mengikuti arahan pembimbing.
Setelah tahallul awal, jamaah melaksanakan thawaf ifadah di Masjidil Haram. Thawaf dilakukan dengan mengelilingi Ka’bah sebanyak tujuh putaran. Setelah itu, jamaah melakukan sa’i antara Shafa dan Marwah bagi yang belum melakukannya sesuai jenis haji.
Thawaf ifadah termasuk rukun haji. Karena itu, jamaah perlu memperhatikan waktu, kondisi fisik, dan arahan pembimbing agar pelaksanaannya berjalan aman. Sa’i mengingatkan umat Islam pada perjuangan Hajar saat mencari air untuk Nabi Ismail AS.
Setelah thawaf ifadah, jamaah kembali ke Mina untuk mabit pada hari Tasyrik, yaitu 11, 12, dan bagi yang mengambil Nafar Tsani sampai 13 Dzulhijjah. Jamaah melontar tiga jumrah: Ula, Wustha, dan Aqabah.
Tahap ini membutuhkan kesabaran karena jumlah jamaah sangat banyak. Ikuti jadwal resmi dan arahan petugas agar ibadah lebih aman. Jangan memaksakan diri di waktu padat jika pembimbing sudah mengatur waktu yang lebih baik.
Sebelum meninggalkan Makkah, jamaah melaksanakan thawaf wada atau thawaf perpisahan. Amalan ini menjadi penutup perjalanan haji bagi jamaah yang akan kembali ke negara asal atau keluar dari Makkah.
Thawaf wada mengajarkan adab berpamitan kepada Baitullah. Setelah menjalani rangkaian panjang, jamaah diingatkan untuk pulang membawa perubahan akhlak, bukan hanya membawa cerita perjalanan.
Baca Juga Artikel Ini: 14 Larangan Ibadah Haji beserta Sanksinya !!! Simak !!!
Memahami urutan ibadah haji sesuai sunnah membantu jamaah membedakan mana rukun, wajib, dan sunnah haji. Rukun menentukan sah atau tidaknya haji, sedangkan wajib haji jika tertinggal memiliki konsekuensi dam. Pengetahuan ini sangat berguna saat jamaah menghadapi kondisi lapangan yang berbeda dari teori.
Karena itu, manasik haji sesuai sunnah tidak boleh dianggap formalitas. Manasik adalah bekal ilmu agar jamaah lebih siap secara ibadah, fisik, dan mental.
Baca Juga Artikel Ini: 7 Kriteria Travel Haji Khusus Terbaik yang Wajib Anda Ketahui
Segala bentuk pembelajaran terkait ibadah haji maupun umroh harus senantiasa lebih digali dan dipahami secara intens dengan selalu mengikuti kajian dan pembelajaran Islami tentang Haji & Umroh. Dalam hal ini ruang diskusi tersebut langsung bisa Anda komunikasikan mengenai pembelajaran dan bimbingan pembelajaran ibadah Haji & Umroh.
Almira Travel sebagai biro Travel Haji Khusus & Umroh yang memiliki pengalaman dalam membimbing ibadah haji khususnya Haji Khusus & Umroh membuka ruang konsultasi dan memberikan fasilitas berupa program Haji Khusus dan berbagai hal terkait fasilitas dan pelayanannya.
Segera konsultasi untuk lebih detail dengan Tim Almira Travel melalui klik tombol berikut :
Urutan pelaksanaan ibadah haji dimulai dari ihram, menuju Mina, wukuf di Arafah, mabit di Muzdalifah, melontar jumrah, tahallul, thawaf ifadah, sa’i, mabit di Mina, hingga thawaf wada. Dengan memahami rangkaian ini, jamaah dapat menjalankan haji lebih tertib dan sesuai tuntunan.
Persiapan terbaik dimulai dari ilmu, manasik yang benar, dan pendampingan yang amanah. Semoga setiap calon jamaah diberi kemudahan untuk menunaikan ibadah haji yang mabrur.
#Urutan Pelaksanaan Ibadah Haji
#Rangkaian Ibadah Haji Sesuai Sunnah
#Program Haji Khusus
#Almira Travel
#InfoUmroh
#ManasikUmroh
#TataCaraUmroh
#AlmiraTravel
PT. Almira Berkah Abadi
PT. Almira Berkah Abadi merupakan Travel Umroh yang telah memiliki izin resmi sebagai Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umroh (PPIU) dari Kementerian Agama RI dengan Izin Umroh No. U 42 Tahun 2023
Izin Haji No. 767 Tahun 2023
PT. Almira Berkah Abadi
PT. Almira Berkah Abadi merupakan Travel Umroh yang telah memiliki izin resmi sebagai Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umroh (PPIU) dari Kementerian Agama RI dengan Izin Umroh No. 521 Tahun 2019
Izin Haji No. 413 Tahun 2021.
PT. Almira Berkah Abadi
Almira Travel merupakan Travel Umroh yang telah memiliki izin resmi sebagai Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umroh (PPIU) dari Kementerian Agama RI dengan Izin Umroh No. 521 Tahun 2019
Izin Haji No. 413 Tahun 2021.